Thursday, October 2, 2008

SULITNYA KU MEMAHAMI AKU (versi puisi)

EDISI SAMPAI KAPAN

ku menangis
tapi aku tersenyum
tersenyum karena tak dapat mengekspersikan tangisku

ku Tertawa
tapi ku menagis
menangis sejadi-jadinya

ku bermimpi
tapi mimpi itu pergi
pergi dan tak dapat ku raih kembali

ku berharap
tapi selalu jatuh
jatuh dan tak berani berharap lagi

ku ketakutan
tapi tak dapat ku teriak
teriak agar takutku menghilang

ku berlari
tapi berat ku melangkahkan kaki
melangkah untuk lebih baik

ku meminta
tapi tak terpenuhi
tak terpenuhi karena bukan aku yang terpilih

hancurkan saja aku
buat apa ku berbuat
kalau aku terluka
buat apa ku berbicara
kalau semua itu terpaksa
buat apa ku memilih
kalau aku bodoh
buat apa ku bermimpi
kalau mimpi itu hanya membuatku pedih

kau boleh tertawa
tertawa melihat ku menangis
kau boleh menggunjingku
menggunjing karena ku terombang-ambing perasaanku
tapi bukankah kau dan aku satu
sebuah jiwa yang merasa dipermainkan oleh dunia dan kehidupan

sampai kapan kita begini
sampai kapan ini berakhir
sampai kapan kita tidak berani menghadapi dunia dan kehidupan ini
sampai kapan kita akan menangis
sampai kapan kita tidak dapat berkata jujur pada hidup dan dunia
sampai kapan kita akan berjalan pada jalan yang bukan pilihan kita

aku hanya dapat menjawab entah
karena esok semua akan terjadi
kita akan sendiri
kau akan menangis ketakutan seperti aku
karena esok kita akan sendiri
menikmati kesunyian,dan kebiadaban dunia dan hidup
sehingga jiwa ini benar-benar satu
ya....!!!
menjadi jiwa pecundang
pecundang....
pecundang yang pantas ditertawakan
ditertawakan dunia

Wednesday, September 24, 2008

Karena Kita Kayak Kopi

Pagi itu ketika ku mencium harumnya aroma kopi itu aku merasa ada sesuatu yang menarik dibalik hitam pekatnya warna KOPI itu. Kutuang air yang masih mengeluarkan uapnya agar dapat kumenikmati kopi asli pedesaan itu. Tanpa menggunakan gula putih kucoba merasakan rasa asli kopi itu. PAHIT sepahit hidup yang pernah kujalani dulu, saat kuterjatuh dalam kegagalan yang masih belum bisa kuterima. Kutaburkan beberapa sendok makan gula agar ia dapat menetralisirkan rasa PAHIT itu, atau menguranginya saja kalau tidak bisa menetralisirkan karena ku tahu PAHIT adalah bagian utama dari KOPIyang tidak bisa dipisahakan begitu saja. Sama halnya saat kalian dan teman - teman tempatku berbagi "menaburkan" kata - kata yang menyemangatiku, juga mendorong aku agar dapt maju tanpa harus menoleh kebelakang lagi.
***
Waktu itu aku baru menyadari kalau hidup ini tidak dapat dipisahkan dari yang namanya kegagalan, kemunafikan, saat - saat kelam, kedengkian, keirian dan semua yang kita sebut sifat - sifat "HITAM". Namun selain itu, layaknya KOPI yang tidak bisa lepas dari warna HITAM aku juga menyadari kalau KOPI tidak bisa melepaskan "dirinya" dari warna PUTIH, karena dengan warna PUTIH yang entah berasal dari gula maupun krim KOPI dapat berguna dan membuat sekitarnya nyaman. Begitulah hidup kita yang hanya diwarnai HITAM dan PUTIH bukan ABU - ABU. Kita tentu dilengkapi sifat - sifat baik yang membuat kita selalu dihati seseorang entah siapapun itu.
***
Begitu panjang proses kehidupan KOPI ini agar ia menjadi KOPI dengan kualitas tinggi dan berharga mahal, ketika sang petani mengambil bibitnya dan menaburnya. Ia tidak begitu saja mendapatkan hasil yang begitu istimewa, tapi ia harus menunggu berminggu - minggu sampai tiba saatnya biji - biji KOPI itu mengeras dan matang. Dengan keringat, sang petani terus menjaga dan merawat bibit- bibit itu, tanpa mengenal lelah ia terus merawat mereka karena ia tahu ketika saatnya ia harus melepaskan BIJI - BIJI itu ke tempat penggilingan, dengan perwatan yang baik maka hasil akhirnya pun baik dan sangat berharga. Begitulah manusia, setiap orang tentu akan dirawat oleh seseorang yang tidak pernah patah arang dalam mendidik kita entah mereka orangtua kandung, angkat, para baby sitter, para preman jalanan, atau lainnya. Dan ketika tiba waktunya mereka sudah tidak merawat kita sepenuhnya seperti waktu kita masih bayi dan melepaskan kita sama seperti para petani melepaskan BIJI - BIJI KOPInya ke tempat penggilingan. Maka semua sudah ditangan kita sendiri apakah kita mampu dan mau melewati semua proses seperti proses panjang agar menjadi BUBUK KOPI berkualitas.
***
Saat kumembayangkan proses penghalusan biji KOPI yang begitu panjang agar ia dapat berguna, aku baru menyadari kalau menjadi seseorang yang berguna haruslah melewati perjalanan dan proses yang panjang. Kita harus dapat bertahan dikala kita jatuh dan menderita sama seperti saat BIJI KOPI digerus dan digiling dengan suhu yang begitu panasnya. Tersirat jangan pernah mengeluh disana, walau KOPI tidak bisa bicara tapi bila biji itu tidak tahan maka ia akan gosong dan dibuang. Bayangkan dari BIJI KOPI yang begitu kerasnya setelah melewati brbagai macam proses ia dapat menjadi BUBUK KOPI yang halus dan harum. Begitulah kita seharusnya menjalani hidup terus belajar dan melewati semua proses agar kita dapat melunak dan menjadi HARUM pada akhirnya. Sehingga kita tidak sia - sia namun dapat berguna bagi sekitar kita.
***
Tidak hanya kita yang bangga, sama seperti para petani KOPI yang bangga saat mendapatkan BIJI - BIJI yang mereka lepas ke penggilingan menjadi BUBUK KOPI berkualitas, begitulah para orang yang merawat kita akan begitu bangganya ketika mereka tahu kalau orang yang sekian bulan ia kandung dan sekian tahun ia rawat berhasil melewati dan melalui semua proses panjang, tidak hanya proses yang membuat kita tersenyum tapi juga proses yang membuat kita menangis sekalipun.



uupss i wanna say thanks to my luv mommy in blog BUNDA RIERIE , my eldest brother in blog world BANG BAYU,my friend in blog GELLY, RYAN (mbah13), IPANKS..
Thanks for the award but i will show it after this post...(tes - tes nulis inggris setelah belajar ma BANG BAYU, kalo salah maap..... akh malu aku!!!! sumpah malu banget)
(akh ngapain malu,, kalo malu terus tidak akan pernah berkembang... ngeram aja sampe jelek)

Gambar saya ambil Di Sini

Thursday, September 18, 2008

INVESTASI yang sudah TIDAK BERHARGA

Pernahkah kita berpikir kalau semua apa yang kita miliki adalah investasi berharga dari Tuhan.
Pernahkah kita berpikir semua organ tubuh kita ini adalah investasi yang sangat - sangat berharga, bahkan tidak dapat dinilai harganya karena begitu besar harganya.
***
Iya atau tidak saya selau berada dikubu iya.
Kasus pembagian zakat yang memakan korban, kasus penjualan organ tubuh manusia, kasus salah tembak yang hanya dibayar dengan kata maaf, kasus pembunuhan berantai oleh Ryan, kasus penjualan daging sampah, kasus silikon membawa kematian, etc. Semua itu membuktikan kalau tubuh manusia sudah tidak berharga lagi. Demi uang 30 ribu manusia rela memberi nyawanya (walau itu bukan disengaja), demia uang ratusan juta rupiah (entah kurang atau lebih) manusia rela menjual organ tubuhnya, akibat ego
manusia korban salah tembak hanya dibebaskan uang pengobatan, sedikit uang dan kata maaf, demi uang menusia rela meracuni manusia lain, dan akibat ketidakpuasan (tidak bersyukur) manusia rela mempermak tubuhnya.
Sama sekali tidak berharga tubuh kita beserta organ - o
rgannya dimata manusia lain.
***
Semua orang menginginkan bayi mereka saat lahir memiliki organ tubuh yang lengkap, dan sehat. Tapi kenapa setiap orang tidak menghargai dan tidak bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Bukankah Tuhan memberikan kelengkapan organ - organ tubuh kita sebagai investasi kita untuk berkegiatan. Entah dengan dalih apa orang - orang itu rela memberikan organ tubuhnya bahkan nyawa sekalipun, namun kali ini saya hanya membahas rasa tidak bersyukur kita pada investasi Tuhan pada kita. Coba pikirkan dalam benak kita apakah mungkin kita dapat berkegiatan dengan leluasa tanpa jari (menulis), tanpa kaki (berjalan), etc. Mengapa semua orang memberi lebel harga duniawi pada investasi yang diberikan Tuhan. Padahal semua macam bentuk investasi itu tidak ada nominal tetapnya akibat mahalnya harga investasi itu.
***
Pernahkah kita berpikir kalau Tuhan merancang bentuk tubuh kita dengan asal - asalan?. Tidak Tuhan merancangnya dengan penuh kasih sayang dan sesuai dengan komposisi kehidupan kita nantinya. Tapi sekarang semua itu kurang menurut kita secara duniawi sehingga rasa syukur itu sudah hampir punah dalam kehidupan kita. Apakah ada yang dapat menggantikan investasi yang berharga itu?. sama sekali tidak. Maka itu harganya begitu tak terkiranya. Namun akibat dalih yang menurut sebagian orang adalah "pantas", mereka membiarkan investasi itu berada dalam bursa efek. Yup berada di Bursa efek MAUT.


oopss hampir lupa!!!
mau say thanks nih sama mbak Else dan Acy atas awardnya.

We need friends to comfort us
when we are sad,
and to have fun with us when we are glad.
We need friends to give us good advice,
We need someone we can count on,
and treat us nice.
We need friends to remember us
one we have passed
sharing memories that will always last.
We need friends for many reasons,
all throughout the season.



Untuk sementara dipajang aja dulu ntar baru mau diteruskan....
Eit... Thanks allot lagi ya.... so much

Saturday, September 13, 2008

dO It LikE a dUck

DO IT LIKE A DUCK. Pernahkah kita mengambil perinsip dari kehidupan seekor bebek?. Jarang orang - orang mengambil hikmah dari kisah hidup seekor bebek. Padahal cara hidup seekor bebek yang termasuk dalam kategori pekerja keras namun santai dapat kita contoh.
"DUCK IN THE LAND, DUCK IN THE WATER" , apa urusannya hidup kita dengan seekor bintang yang lebih sering bermain di lumpur sawah?. Tanpa kita sadari BEBEK adalah hewan yang paling bahagia. BEBEK dapat berlari di daratan dengan lincahnya dan juga dapat bersenda gurau di atas permukaan air. Namun meski ia mampu bercengkrama dengan bebasnya di atas tanah, hanya di atas airlah dia dapat bebas seperti elang di udara. Layaknya "DUCK IN THE LAND" begitulah kehidupan manusia, yang berkerja keras, berkorban, penuh semangat dalam setiap perjuangannya. Namun tidak sanggup melawan semua yang seharusnya mereka lawan seperti saat BEBEK yang sedang digiring pemiliknya menuju ke kandang. Dan semua pekerjaan keras yang disertai dengan penderitaan terus dilakukan selama bertahun - tahun.
***
Kenapa mereka seakan tidak pernah berusaha untuk memberontak dari keadaan status quo, guna mencapai keadaan mereka yang lebih berbahagia seperti layaknya "DUCK IN THE WATER", sebab merka belum tahu jalan kearah sana. Padahal Tuhan telah memberikan komposisi yang sama antara kebahagiaan dan penderitaan dan semua itu manusialah yang memegang kendalinya. Kitalah yang mengambil pilihan dari semua opsi yang diberikan Tuhan. Seperti analogi "DUCK IN THE WATER" yang dapat berenang dengan riangnya dan bebas tanpa ada masalah di atas air begitulah seharusnya manusia dapat melihat dengan jeli dimana tempat yang sesuai untuk menemukan kesuksesan. “Kesuksesan terjadi pada saat kekuatan menemukan tempatnya yang sesuai..” bukan disembarang tempat tanpa melihat sesuai atau tidakkah dengan kemampuan yang kita miliki, namun ini lebih kepada sebuah talenta yang membawa kita kekesuksesan. Lihatlah BEBEK yang melaju dengan tenang di atas permukaan air. Mereka tahu dimana mereka dapat menemukan kedamaian dan kebahagian setelah seharian bekerja dan memberikan hasil untuk majikkannya.
***
Tidak hanya mencari tempat yang sesuai dengan diri kita kita juga dapat mencontoh BEBEK
dari cara dia berenang di sebuah telaga. Dengan begitu marilah kita bekerja layaknya
BEBEK berenang melaju dengan tenang dan cantiknya, tanpa membuat permukaan air menjadi berkecipak dan berisik. BEBEK pun tak perlu membuat sekujur tubuhnya basah kuyup atau merusakkan bulu-bulunya. Namun tentu kita tahu setiap kali BEBEK berenang di sebuah telaga ia selalu menambah keindahan pemandangan di sana. Tapi tahukah kita kalau saat BEBEK melukiskan keindahan alam sebenarnya di bawah permukaan air sepasang kaki sedang bekerja keras tanpa ingin dilihat penikmatnya. Mengapa kita tidak mencontoh "DUCK IN THE WATER", mengapa harus menjadi "DUCK IN THE LAND" yang bekerja keras tapi selalu diakhiri dengan kepamrihan.
***
Walau begitu kita memang tak perlu menyembunyikan luruhan keringat dan tarikan nafas panjang kelelahan, namun kita dapat mengubahnya sebagai sebuah kesukacitaan. Caranya hanya dengan suara kita, kita harus meminta seperti BEBEK meminta makan dikala siang, namun kita tidak perlu menjadi BEBEK yang harus menurut pada majikan jika saat digiring, perlu perlawanan untuk perubahan yang lebih baik. Semua kebahagiaan dikala bekerja keras hanya tercapai bila kita meletakkan sumbangsih kerja kita dalam bingkai indah tentang peraihan hidup. Karena kerja adalah bagian dari hidup, maka jangan biarkan kerja jadi noda tinta dalam lukisan tentang kehidupan kita.