Sunday, November 15, 2009

Imajinasi Ima

Ima gadis belia yang kerap diejek teman-teman sekolahnya karena fisiknya yang tidak sebagus dan semenarik gadis lain. Berat badannya yang memasuki kategori obesitas sering menjadi bahan ejekan. Itulah alasan kenapa Ima selalu bersikukuh untuk tidak mengunjungi gedung sekolahnya yang sudah berdiri dari tahun 1995 itu. Ima selalu memilih untuk singgah di salah satu game centre yang menyediakan banyak pilihan permainan game mulai dari yang online hingga yang offline. Dari belasan icon yang ada di desktop komputer Ima memilih Ayodance untuk dieksplorasi. Ima terlihat sumringah setiap bermain, semua beban ejekan dan berat badannya seperti diletakkan didalam tasnya yang selalu dia taruh dikolong meja komputer.

Dengan bebasnya Ima bermain dan berimajinasi sebagai penari profesional dengan lekukan tubuh seperti Madonna. Berbagai item dia beli untuk melengkapi dan semakin memantapkan keindahan karakter mayanya. Ima menyihir semua pemain game dengan imajinasinya, bahkan dia mendapatkan pujaan hati melalui game itu, memang tidak berada dalam satu kota tetapi Ima merasa bahagia karena gadis seburuk dia bisa mendapatkan seorang lelaki untuk menyudahi status singlenya.

Ima berhasil menyihir dunianya yang kelam dan penuh ejekan dengan imajinasinya. Tidak ada yang melarang orang untuk berimajinasi, karena pribadi kitalah yang berperan dalam dunia kecil yang kita buat itu. Imajinasi adalah salah satu kekuatan bagi setiap manusia termasuk Ima. Hanya dengan berimajinasi Ima dapat menjalani hidupnya dengan senyuman yang ada di bibirnya. Ima hanya punya kekuatan yang dapat membuatnya terus menerima kehidupan dan ejekan, yaitu imajinasinya. Imajinasinya sebagai seorang diva yang sama dengan manusia lain, bahkan di atas mereka.

Tanpa kita sadari imajinasi kita lah yang memacu kita untuk terus bergerak. Berimajinasi memiliki rumah besar membuat setiap orang berlomba mencari uang, berimajinasi sebagai pemimpin membuat orang melatih otaknya menjadi pemikir tangguh, karena hidup adalah seni untuk sebuah kanvas, dan dengan imajinasi kita dapat menorehkan cat warna dengan takaran yang pas dan tepat sesuai komposisi kehidupan yang akan kita jalani nanti.

BERIMAJINASILAH SEBAGAI PEMENANG dan LAKUKAN APA YANG PEMENANG LAKUKAN

Saturday, October 31, 2009

Mereka Panggil Saya Tai Lincung

Sebuah pertemanan tidak lengkap jika tidak saling memberi nama panggilan. Itulah yang terjadi pada saya, mengenal dunia baru membuat saya mengenal berbagai kata unik sebagai panggilan, salah satunya adalah tai lincung (selanjutnya ditulis te'lincung). Anehnya kata-kata itu digunakan untuk memanggil saya, dan saya hanya merasa santai dan tidak masalah dengan penyematan kata itu (bodoh memang). Entah darimana dan mengapa kata itu bisa dipatenkan untuk saya. Memang terdengar kurang sopan dan tidak beretika jika mendengar kata te'lincung itu namun seiring perjalanan pendewasaan pemikiran, saya mengubah kata itu di otak saya menjadi The Leant Young. Sedikit memaksa memang tapi saya berusaha mengartikannya sebagai hal yang positif yaitu Sandaran Muda, dan itu berarti saya adalah calon-calon pilar baru yang akan jadi sandaran setiap orang. Dan memang saya harapkan demikian dapat menjadi pengubah dan pemikir baru untuk keadaan yang lebih baik demi banyak orang yang memberi saya kepercayaan dan juga untuk mereka yang berpandangan miring.

Seperti yang sudah saya katakan saya tidak keberatan mereka memanggil saya seperti itu karena saya selalu berusaha mengubah mindset saya dari melihat satu sisi menjadi ribuan sisi, dimana selalu ada hal baik didalam hal jelek. Seperti halnya bermain rubiks yang kini sedang saya  geluti, saya berusaha melihat dan memutarnya tidak dengan sudut dan putaran yang sama, karena jika tidak begitu maka setiap warna tidak akan mencapai kesempurnaan. Rubiks adalah cerminan kehidupan kita saya rasa karena banyak hal-hal kecil sebagai masalah yang harus dipecahkan dengan melihat masalah itu dari sisi yang berbeda, begitu pula yang terjadi ketika bermain rubiks, terlalu banyak kotak dan warna yang berbeda yang harus disatukan dengan cara melihat setiap kotak kecil dan setiap warna, bukan satu warna dan tertitik pada satu pusat. Sama seperti kata te'lincung yang sudah pasti dianggap hal yang tidak pantas saya terima sebagai panggilan saya maka saya berusaha untuk mengubahnya dan lebih menekankan kata baru yang lebih sempurna itu sebagai maksud dari mereka memanggil saya yaitu The Leant Young (-sandaran muda-), karena saya percaya dari semua panggilan, hinaan, makian, sahutan, dan kejadian apapun itu semua ada makna yang lebih baik dan tidak 100% memiliki makna jelek. Bagaimana kita mendapatkan makna baik itu, ? ya dengan cara kita memutar otak dan melihat dari ribuan sisi yang tersembunyi dan menyatukannya menjadi lebih baik, melakukan terobosan baru dan membuat ubahan yang lebih diterima otak kita sebelum kita langsung berpandangan jelek.
Menurut saya orang yang berpandangan miring setiap kali hal jelek terjadi di depan mata mereka adalah orang-orang yang belum menseting otak mereka untuk melihat dan menentukan pendapat dari sisi yang berbeda. Secara alamiah pendapat selalu muncul dari pandangan pertama memang tidak dapat disanggah tapi secara pemikiran, pendapat harusnya dicerna dan dikaji dengan berbagai pilihan yang rumit dan berbeda seperti proses menyamakan tiap sisi rubiks dengan menyatukan warnanya. Saya yakin ketika saya mengenal dunia yang berbeda lainnya (dunia nyata sebagai kuli tinta) nanti saya akan mempunyai pemikiran yang semakin mantap seperti setiap orang yang dengan mantapnya mengatakan tomat sebagai buah bukan sayur, dan kacang tanah sebagai buah bukan umbi, dan memiliki pemikiran yang rumit seperti setiap orang yang dengan rumitnya menentukan ayam atau telur yang lebih dahulu.


regrads,

The Leant Young (te'lincung)

Thursday, October 22, 2009

Peran Pembantu : Kesempatan Untuk Membanggakan

Hidup adalah sebuah kesempatan, namun banyak orang yang mengisi hidupnya dengan mengutamakan persepsi mereka sehingga kesempatan besar pun jadi tidak terlihat ketika mereka dihadapkan dengan intervensi persepi yang sudah mendarah daging. Kesempatan untuk membuat perubahan menjadi kecil, dan hanya memenuhi hidupnya dengan segala persepsi negatif dan pandangan miring tanpa ingin membantu.

Manusia diciptakan berkoloni dan hal itu mewajibakan mereka untuk mengagungkan koloni mereka, agar lebih menonjol dan tidak kalah saing dengan koloni lain. Tapi banyak hal yang melunturkan sikap mengagungkan itu salah satunya persepsi yang memang tidak dapat di lepaskan dari pandangan, pikiran, dan ucapan manusia. Memang akan terlihat munafik jika tangan melakukan apa yang mulut katakan tidak baik. Tapi akan terlihat dewasa dan berjiwa pemenang jika tangan dapat melakukan hal yang terbaik bagi koloni walaupun mulut berkata tidak. Hidup untuk koloni lebih bermanfaat dibanding hidup untuk pemikiran entah apapun perannya baik sebagai aktor utama, sutradara, produser, kru, atau bahkan peran pembantu yang dapat memantapkan sebuah seting keadaan. Tidak akan ada pencahayaan yang bagus,dan sound yang menderu jika tidak ada penggulung kabel, peran kecil terbukti sangat berperan dalam hal ini.
Tidak semua koloni yang terbentuk langsung berada pada keadaan di atas angin, beberapa diantaranya sedang merangkak menapaki setiap level untuk mencapai posisi yang berdampak besar bagi setiap koloni lainnya. Dibutuhkan seorang pelopor untuk berada di bagian paling depan sebagai ujung tombak. Bagai angsa-angsa yang berpindah tempat, hanya ada satu angsa yang diposisikan paling depan dan yang lainnyaberada di sisi kanan dan kiri untuk menstabilkan keadaan agar dapat sampai pada titik pendaratan yang memberikan keuntungan untuk semua angsa. Peran kecillah yang ada pada posisi itu, untuk mengasah setiap ujung tombak, memberi semangat ketika pelopor jatuh, menjaga arah dan mendampingi sebelum sampai pada tujuan, dan yang pasti mendukung dengan semangat yang sama dengan yang dimiliki seorang pelopor.
Seorang pelopor lahir dari koloni yang sama dengan para peran pembantu, lahir untuk tujuan bersama, lahir untuk melayani peran pembantu, dan lahir demi keagungan koloni. Inilah yang membuat para pemeran pembantu harus mengenyampingkan setiap persepsinya untuk memenangkan sebuah kesempatan, mengambil kesempatan untuk dapat turut serta sebagai peran pembantu yang aktif untuk memberi kebanggaan. Bukan sebagai peran pembantu pasif yang hanya dapat menjadi penonton di depan panggung bukan pekerja di balik panggung. Namun ikut tertawa dan hanya menikmati saja dengan posisi duduk tanpa melakukan perpindahan dan pekerjaan kecil untuk membuktikan peran diri sesungguhnya.
Yang dibutuhkan oleh koloni adalah seorang pelopor dan para peran pembantu yang mau bersama-sama membuat kebanggaan, mengenyampingkan persepsi untuk kebanggaan dan keagungan koloni, bergerak aktif sebagai peran pembantu yang diperhitungkan, bukan peran pembantu yang duduk apatis dengan segala persepsinya seperti benalu yang hidup dari jerih payah tanaman lain.
Lalu dimana posisimu, seorang pelopor yang membutuhkan para peran pembantu solid,  peran pembantu yang ikut menyokong seorang pelopor demi kebanggan koloni, atau hanya sebagai peran pembantu yang hanya menikmati tanpa memberi ukiran tetesan keringat untuk kebanggaan.
Kesampingkan persepsi demi kepentingan, kekuatan, kebesaran, pengembangan, dan keagungan koloni (berama), ini kesempatan pembuktian bukan kesempatan untuk memkasa.

Friday, October 16, 2009

Tugas Dasar KesLing FKM B/2008

Tugas Dengan Tema : "Permasalahan Kesehatan Lingkungan di Wilayah Anda"
Ketentuan Tugas       :
  1. Bentuk Paper, Berisi (BAB 1. Latar Belakang, BAB 2. Isi, BAB 3. Penutup).
  2. Daftar Pustaka Minimal 5 (bukan dari internet, boleh internet namun bukan dari situs tidak pasti ex: blog, melainkan situs dinas kesehatan atau instansi terkait)
  3. Dilampirkan Foto Kegiatan/Objek.
  4. Dikumpul saat kuis tanggal 6 November 2009 (komfirmasi ke kating -saya- supaya di data untuk dosen).
  5. (akan ada perbaikan kententuan -lupa bawa catatan-)

Saturday, September 19, 2009

Bukan Sekedar Tali Kur, Sepatu Pdh dan Seragam Bro..!

Saya (selalu) merasa iri ketika melihat beberapa teman dengan bangganya memajang dan memamerkan foto-foto mereka ketika mengenyam pendidikan di akademi atau intitusi yang ada di Indonesia yang menggunakan seragam resmi. Memang sama dengan saya yang mengenyam pendidikan formal namun bedanya adalah di seragam dan prospek mereka menuju ke masa depan. Siapa tidak iri dengan gagahnya seragam coklat itu dan juga masa depan yang pasti sudah di tangan mereka.


Tapi siapa sangka di sela-sela rasa iri saya ada juga sindiran bahkan pandangan miring untuk mereka (-terserah jika (dibilang) ini karena rasa iri saya yang berlebih). Namun kenyataan yang ada mereka di manjakan dan sekaligus di jatuhkan oleh rasa bangga itu. Mereka memang (dilatih) menggunakan konsep militer jadi (pasti salah) jika kita berkata mereka merasa nyaman-nyaman saja itu biasa. Tapi tidak biasa jika dikatakan kalau mereka tidak merasakan pendidikan yang membutuhkan keringat bukan karena push up, sit up, atau berlari. Banyak mahasiswa yang bahkan rela pontang-panting mencari pekerjaan sambilan untuk "kepuasan" perkulihannya. Sedangkan (beberapa dari) mereka dengan background yang mungkin (sedikit) di atas mahasiswa lain tidak perlu merasakan susahnya mencari uang dari kerja sambilan karena mereka (telah) dimanjakan negara untuk (seharusnya) menjaga nama baik negara. Mereka bangga dengan seragam coklatnya, dengan tali kur warna-warni, juga dengan sepatu Pdh mengkilat mereka tanpa bangga pada baju berkerah para mahasiswa dan sepatu sneekersnya.

Namun kenyataan yang ada siapa yang dapat menggulingkan tonggak Pemerintahan, siapa yang lebih sering mencoreng yang sudah mendidik dan membiayai, siapa yang hanya santai, siapa yang terlalu bangga, dan siapa yang (menjadi) sombong. Pertanyaan itu dapat di jawab dengan veris berbeda, namun saya bisa menjawab dengan penjelasan ringan. Ketika kebanggaan itu menjadi kesombongan maka iya atau tidak seseorang akan merasa paling atas dan hasilnya mereka lupa diri, lupa akan kepada siapa dia harus mengabdi, kepada siapa dia harus menghormati, kepada siapa dia harus tunduk. Semua imbuhan me- itu mereka tidak terima, mereka lebih senang menerima imbuhan di-, dihormati, dibanggakan, disukai, dibayar, dan (mungkin) dibunuh (atau membunuh). Dibunuh disini bukanlah dibunuh secara nyata namun dibunuh oleh kebanggaan mereka sendiri. Ketika mereka lupa bahwa bangasa yang membayar dan memndidik mereka sesungguhnya mengharapkan rasa hormat dan bukan coreng akibat ulah mereka serta para pendidik mereka disana. Bangsa dan masyarakat (pasti) akan bangga jika mereka ingat yang harus mereka lakukan adalah membanggakan nama bangsa dan negara yang telah mendidik mereka secara khusus bukan malah membanggakan nama sendiri.

Seharusnya mereka tidak mencari seragam, tali kur, dan sepatu Pdh atau bahkan gaji yang akan langsung di terima . Tetapi mereka harus mencari sikap yang pantas untuk diletakkan di posisi paling depan dalam kamus etika bersosialisasi mereka baik di dalam maupun di luar posisi mereka sebagai orang yang mencari ilmu. Mereka harus ingat mereka diinginkan rakyat untuk memberikan senyum bukan memberikan kebanggaan (yang berlebih). Kebanggan yang sesungguhnya akab di dapat jika orang luar bangga dengan etika kita, etika engkau sebagai anak didik (kami) para rakyat yang membayar kalian. Kemanjaan akan kebanggan berlebih kalian akan menjadi boomerang walau kalian tetap tidak tergoyah dipijakkan kalian sebagai orang yang akan menikmati hasil keringat mahasiswa tanpa seragam, kelak. Tapi kami yakin kami mahasiswa yang (hanya) menggunakan kemeja berkerah juga tidak dapat digoyahkan karena kami (sudah) layak jadi anak bangsa yang berbudi, berakal, beretika, dan tidak mencoreng (walau kami tidak dibayar) negara dengan ulah brutal (hewani) karena kebanggan pada diri sendiri. Kami pilar Indonesia bukan (hanya) penikmat Indonesia.

Thursday, September 17, 2009

Tugas K3 FKM

  1. Cari UU yang berhubungan dengan K3 bukan artikel K3 juga bukan pasal dari UU
  2. Buat Judul yang menjadi judul analisis juga merupakan dasar pemikiran untuk menganalisis
  3. Analisis dari UU yang dipilih ditulis tangan dan dibuat paper (bukan makalah)
  4. UU diprint dan di jilid Analisis di selipkan di dalamnya
  5. Analisis berisi : Permasalahan Pokok (yang menjadi dasar pemikiran dan disesuaikan isi UU yang dianalisis), Tujuan, Kesimpulan, dan Saran
  6. Judul tiap individu berbeda, juga diusahakan tiap individu berbeda pemilihan UU nya.
  7. Kirim judul dengan format : Nama: Judul analisis, UU yang akan di analisis ke. 085247699889
  8. Tugas dikumpul Setelah Hari Raya Idul Fitri

Judul yang saya terima
  • Isma : Analisis tentang realitas pelaksanaan K3 di Indonesia dari UU no. 23 tahun 1997
  • Saya : Analisis tentang perlindungan HAM bagi tenaga kerja di Indonesia dari UU no.13 tahun 2003 (judul dapat berubah)
  • Nur : Analisis tentang jaminan sosial bagi tenaga kerja di Indonesia dari UU no.1 tahun 1970
  • Lis : Analisis pemeliharaan kesehatan tenaga kerja dari UU no.3 tahun 1992
  • Zainudin : Pembinaan Keselamatan dan kesehatan tenaga kerja di lingkungan tempat kerja dari UU no.1 tahun 1970
  • Novia : Analisis tentang perbaikan program keselamatan kerja dari UU no.14 tahun 1993
  • Fatimah aka Ima : Analisis tentang jaminan keselamatan tenaga kerja dari UU no.1 tahun 1970
  • Yuli Ambarwati : Analisis tentang tingkat pengawasan Pemerintah terhadap pelaksanaan K3 di Indonesia dari UU no.1 tahun 1970
  • Rena : Rena : Analisis tentang perlindungan hukum bagi tenaga kerja wanita di luar negeri dari UU no.39 tahun 2004
  • Riska : Analisis tentang syarat-syarat keselamatan kerja dari UU no.1 tahun 1970
  • Candra : Analisis tentang pelanggaran memperkerjakan anak-anak dari UU no.13 tahun 2003
  • Bayu : Analisis tentang ergonomi, Tunjangan Pelatihan dan Usia Produktif dari UU no. 13 tahun 2003
  • Heni : Analisis tentang pengaturan dan pengawasan K3 di bidang tambang dari UU no.19 tahun 1973
  • Annisa : Analisis tentang kesejahteraan Tenaga Kerja dari UU no.34 tahun 2004
  • Wini : Analisis tentang Keselamatan Kerja Pipa Penyalur Minyak Gas Bumi dari UU no.44 tahun 1960
  • Siti : Analisis tentang manajemen K3 dari UU no. 23 tahun 1992
  • Ika : Analisis tentang belum terealisasinya pelaksanaan K3 dilingkungan kantor dari UU no. 23 tahun 1992
  • Jein : Analisis tentnag penerapan UU no.23 tahun 1997 di lingkungan kerja serta hubungannya terhadap masyarakat pekerja dan masyarakat lingkungannya dari UU no.23 tahun 1997
  • Dewi : Analisis tentang keselamatan penyelenggaraan Penerbangan dari UU no.15 tahun 1992
  • Khairunnisa : Analisis tentang ketentuan-ketentuan pokok mengenai Tenaga Kerja dari UU.14 tahun 1969
  • Vivi : -Judul Belum Ada- dari UU no.3 tahun 1992
Untuk yang lain harap tidak mengangkat UU no.1 tahun 1970, UU no.13 tahun 2003, UU no.34 tahun 2004

Wednesday, September 16, 2009

Paradigma Sehat

Beberapa orang tahu bahwa sehat adalah suatu keadaan stabil baik dari segi fisik, mental, sosial-ekonomi, dan tentunya produktif. Namun tidak sedikit orang yang hanya tahu sehat itu adalah kondisi ketika tidak sakit, ini yang salah beberapa masyarakat Indonesia lebih memilih mencari sehat jika sakit sedangkan ketika sehat mereka tidak menjaganya. Poin terpenting dari menjaga kesehatan bukanlah ketika kita sakit kemudian berobat dan minum obat lalu sembuh namun ketika kita bisa hidup sehat, menjaga lingkungan, pola makan, dan mengatur aktifitas kita.

Kesehatan sebenarnya bukan dilihat saat kita dapat sembuh dari penyakit namun diliha dari saat kita dapat mempertahankan kondisi stabil kita. Kurang lebih ada 15% penduduk Indonesia yang sakit dan 85% lainnya dalam keadaan yang sehat namun pemerintah lebih memperhatikan ke-15% orang sakit ini. Sementara tidak ada pelayanan bagi 85% masyarakat Indonesia yang sehat. Pemerintah lebih memntingkan rumah sakit dibandingkan pusat kesehatan masyarakat yang merata bagi pelayanan dan penyuluhan kesehatan masyarakat.

Selain dari pemerintah, banyak masyarakat yang lebih senang untuk mengunjungi rumah sakit dibanding merawat diri di rumah, mendengarkan penyuluhan, dan memeriksakan diri secara rutin di puskesmas. Padahal jika dipikir untuk memasuki rumah sakit dan menikmati segala pelayanannya kita butuh biaya yang besar bahkan tidak sedikit ada unsur driskiminasi, sementara jika kita merwat diri dengan pola sehat yang teratur maka konsekuensi untuk mengeluarkan biaya mahal akan di mininalisir. Banyak yang beranggapan sehat adalah sembuh dari penyakit jadi jika sakit berobat ke dokter, minum obat, dan sembuh, dan setelah itu tidak ada hal lain yang menunjang kesehatan individu tersebut termasuk pencegahan agar tidak kembali terkena penyakit yang sama.

Cara pandang ini lah yang seharusnya dirubah, dari pada kita membuang-buang biaya yang besar untuk kesehatan di rumah sakit bukankah lebih baik jika kita mencegahnya di rumah masing-masing. Memeriksakan diri ke puskesmas terdekat dan yang pasti ikut menjadi kader kesehatan di lingkungan rumah.

Namun hal ini tidak serta merta terjadi begitu saja, jika tidak ada promosi kesehatan dari pemerintah dan hal ini tentu menjadi hal yang mustahil. Walau sering kita dengar mencegah lebih baik dari mengobati jika kurang promosi maka masyarakat juga tidak akan mengerti bagaimana pencegahan yang baik. Kita tidak akan pernah berjalan jika tidak diajarkan berjalan oleh orang tua kita, begitulah masyarakat tidak akan pernah mengerti pola hidup bersih dan sehat jika tidak pernah ada yang menginformasikannya. Maka alangkah lebih baik jika pemerintah memberdayakan puskesmas dan petugas kesehatan di beberapa wilayah yang kurang terjangkau, bukan malah membangun rumah sakit dan membuat wacana puskesmas 24 jam. Semua akan sia-sia jika aksesnya juga tidak ada contoh jika jauh dari pemukiman warga maka warga akan malas untuk datang secara rutin.

Hal yang paling penting adalah mengubah paradigma sehat itu sendiri. Bukan sembuh dari sakit namun mencegah penyakit dengan pola hidup yang benar. Dengan begitu masyarakat yang sehat akan dipertahankan dan akan bertambah seiring sembuhnya masyarakat yang sakit. Selamat Mencegah dan menikmati Promosi kesehatan yang seharusnya lebih baik dan lebih banyak dari saat ini.

Tuesday, September 8, 2009

Ibu Pertiwi Menuntut

Sebuah titik terang muncul di tengah semua kejadian pengklaiman pihak Malaysia terhadap budaya Indonesia. Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membawahi masalah kebudayaan, UNESCO, telah menyetujui batik sebagai warisan budaya tak benda yang dihasilkan oleh Indonesia. Selain itu, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan sejak 2003 kebudayaan Indonesia telah diakui oleh UNESCO dengan diraihnya sertifikat wayang sebagai warisan budaya tak benda dan keris sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia. Pemerintah terlihat lebih agresif kini dengan menominasikan angklung sebagai warisan budaya dari Indonesia. (ANTARA News~)

Berita ini memberikan rongga waktu beberapa menit bagi masyarakat Indonesia yang sedang tegang untuk merasa lega dan menang. Namun tidak demikian yang di harapkan Ibu Pertiwi, ketika warisan budayanya di klaim terus menerus oleh pihak luar secara tidak langsung Ibu Pertiwi menuntut jati diri anak-anak bangsanya yang sesungguhnya. Gugatan yang pertama di list tuntutan Ibu Pertiwi adalah pertanyaan siapa bangsa ini sebenarnya. Apakah bangsa yang besar tanpa jati diri karena telah teracuni budaya luar yang begitu menglobal dan mudah dijejaki setiap tapak langkahnya. Tidak terasa munafik jika kita menyebut bangsa ini adalah bangsa yang luas dan besar tanpa tangan yang panjang, dada yang lapang, dan tumit yang kokoh untuk merangkul setiap jengkal kebudayaan yang dimiliki. Setiap orang lebih mampu untuk merangkul kebudayaan luar yang sangat kecil dan sedikit.

Kini dengan langkah maju Pemerintah Indonesia untuk mempertahankan dan kembali menarik setiap budaya dari genggaman bangsa lain, maka masyarakat kembali dituntut untuk terus melestarikan dan kembali membentuk jati diri bangsa besar yang sesungguhnya. Bukan jati diri tiruan dari bangsa asing yang jelas-jelas berbeda ras dengan Ibu Pertiwi kita, tetapi kita adalah bangsa yang besar yang penuh dengan keragaman budaya, adat, ekonomi-sosial, dan keragaman hayati serta ribuan pulau yang membentang luas sampai di titik tak terlihat garis pantai. Dan kini bangsa yang besar ini membutuhkan rangkulan yang lebih erat lagi dari anak-anaknya yang hidup dan mencari makan dari lumpurnya, debunya, airnya, udaranya, daun keringnya, anginnya, awannya, hutannya dan semua dari alamnya, dan itu akan terjadi jika setiap elemen bersatu dan bersama-sama bergandengan tangan untuk memeluk dan menjaga warisan Ibu Pertiwi.

Ibu Pertiwi kini berharap tidak ada lagi bangsa yang mampu melukai lapisan epidermis para pejuang devisa, berharap tidak ada lagi celah untuk mengakui setiap warisannya, dan menginginkan anak-anaknya meruncingkan belati dan siap memanaskan ujung senapannya untuk membela tanah air dengan tumpahan darah sekali pun. Karena semua perbedaan yang dimiliki anak-anak bangsa adalah rantai dengan ikatan persamaan visi pembangunan dan perdamaian bangsa paling kuat yang akan sulit untuk dipisahakan seperti jemari burung Rajawali yang akan terus mengcengkram kebhinekaan Indonesia sampai pada titik ketika udara tidak lagi dapat dihirup, dan air tidak lagi mengalir.

Thursday, July 16, 2009

5setia 2nd Anniversary

170707-170709Saya tidak menyangka ternyata sudah 2 tahun ini saya menulis di Blog ini. Awal mula pembuatan Blog ini hanyalah untuk memenuhi tugas mata pelajaran Teknologi Informatika dan Komunikasi, setelah nilai keluar maka saya mengasingkan Blog ini dari pemikiran saya. Mencoba untuk menjelaskan mengapa saya kembali aktif dengan si "5setia" ini adalah karena perpisahan dengan sahabat-sahabat saya yang memaksa saya untuk membuat hal yang akan mengingatkan saya pada mereka, maka saya merubah URL Blog ini dari entah saya lupa menjadi 5setia.blogspot.com.

Tidak banyak memang postingan yang saya buat namun saya berhasil mengeluarkan pemikiran saya disini, mencoba lebih dewasa sudah saya lakukan dengan Blog ini, dan saya mencoba untuk menulis dengan gaya yang sedikit resmi (-mungkin akan terlihat membosankan-) dengan postingan yang saya harapkan dapat memberi motivasi dan pemahaman hidup pada siapa saja yang membaca. Saya tidak akan merubah gaya menulis saya ini karena saya telah berkomitmen 1 tahun yang lalu untuk menulis artikel-artikel dengan gaya yang lebih resmi. Saya berkomitmen memosting setiap artikel dengan gaya yang lebih resmi dikarenakan saat di tahun 2008 kemarin saya menemukan blog-blog yang saya favoritkan diantaranya blog milik mommy Laurencia Susan, mbak Graticia, blog Bang Bayu Aditya, blog Ryan Ardhi Mergantara yang kerap disapa mbah13, blognya Pratama Adi, blognya mas Wendra Wijaya, blognya mba Winda Candra, blognya mba Lyla, blognya Bunda Rierie, blognya Cena, blognya mba Edaa, blognya bang Daniel Muthe, blognya Mba Elfira Novi, blognya mas Herfiyalis, blognya Roni Pascal,blognya mas Cahpesisiran, blognya mas Fajar Indra, blognya kak Ivana, blognya Ipanks, blognya bang Alief, blognya mas Awan_Clikerz, dan banyak lagi, mereka memosting artikel dengan gaya yang lebih resmi dan saya tertarik untuk mengikuti jejak mereka (dan saya juga mengucapkan terima kasih kepada kalian semua).

Oke, saya tidak berharap agar postingan yang saya beri judul "5setia 2nd Anniversary" ini membuat mata berair-air tapi saya hanya berharap Blog saya akan tetap eksis walaupun sedikit pengunjung. Untuk sahabat-sahabatku yang memberi saya bantal berlambangkan -S- ini adalah Blog kalian Miss u all so much, walaupun tidak ada pengunjung sekalipun, Blog yang saya dedikasikan untuk kalian ini akan tetap saya isi dengan pemikiran saya, karena dengan Blog ini saya akan terus mengingat kalian.

Saya merangkai puisi dari semua kejadian yang saya ingat yang berhubungan dengan kalian dan itu terinspirasi dari judul puisi yang ajenk tulis (-yang masih saya ingat membuat mata saya berair-) saat pelajaran Bahasa Indonesia dan sedikit saya modifikasi (-bahkan berubah total-) 3setia (-namun saya ganti menjadi 5setia-), saya akan mengingat kalian ber-4.

~5setia~

1setia kita bertemu
seyum sapa menghiasi kita
kalian menegurku ketika didepan pintu
aku rindu

2setia kita mengenal
perbincangan akrab mulai terdengar
aku ingat beberapa hal yang membuat kita terlihat sama
aku sedih

3setia kita berteman
tawa dan kebodohan timbul tanpa percuma
kita saling mentertawakan satu sama lain
aku ingat ketika kau menghinaku
aku jengkel

4setia kita bersahabat
tingkah-tingkah konyol tak lagi jadi rahasia
aku masih ingat kebodohan yang kita lakukan
aku tertawa

5setia kita selamanya
mencari cita-cita kita berpisah
aku masih mengingat kalian
aku takkan lupa.


Samarinda, 160709

P.S untuk 5cm/FAJAR (ingat jess ini nama buatanmu*) :
Kalian taukah aku disini merindukan saat kita kumpul malam hari, tertawa, bercerita sampai puas, dan saling menghina?
Kalian tahukah aku disini tidak dapat tertawa lepas tanpa pikiran?
Memang terdengar cengeng dan norak tapi ini lah yang aku rasakan, aku merindukan ketika diriku terhipnotis dengan pembicaraan kita sehingga semua beban pikiran kulupakan. Aku berani seperti ini karena di depan kalian aku pernah menangis. Kalian berarti bagiku walau memang kita banyak perbedaan tapi kalian sangat berarti bagiku
, sangat (kalian keluarga keduaku ^^,)....

Sunday, July 12, 2009

The Fragment of Money Rp.2000,00

The Indonesian bank (BI) officially launched the fragment Rp.2,000 as the payment implement that was legal in Indonesia. The new note the fragment Rp.2,000 this was dominated by the grey colour. The launching of this new money was carried out by the temporary official (Pjs. ) Bank Indonesia Governor, Miranda S. Goeltom, was accompanied by the Deputy Bank Indonesia Governor the field, S. Budi Rochadi, South Kalimantan Governor, Rudy Ariffin, and Central Kalimantan Governor, Agustin Teras Narang of money circulating in Banjarmasin, Kalimantan, yesterday.


“The publication of this new emissions note was the implementation of the policy of the Indonesian Bank in the field of money circulating that is to satisfy the requirement for money rupiah in the community in the nominal number that was enough, the appropriate fragment kind, right on time and in the appropriate condition was published,” explained Miranda.

This new change was illustrated Prince Antasari (the National Hero from Banjarmasin, South Kalimantan) with the picture of the Dayak Dance (-one of culture in Indonesia-) at the back . This money will be current as the legal payment implement from July 10 2009.

BI in his press release to Malang Post explained, the picture election to this money referred to the design of the note beforehand that had the theme the Nasional Hero. This as the form of the appreciation to the heroes and to join in as well as conserve the nation culture. The new note the fragment Rp.2.000 was dominant grey with the savety element took the form of the sign of illustrated water of Prince Antasari with the security thread that was buried in money paper and be inscribed BI2000 repeatedly that would change be red under ultraviolet rays.

This new fragment note also help the requirement for the tuna netra (-the blind person-) by providing the certain code (blind code) nearby right the face part of money that is taking the form of the long cube box that was printed in an intaglio manner. Moreover, like when spending the new note the fragment Rp 100,000 and Rp 20,000 emissions years 2004, as well as Rp 50,000 and Rp 10,000 emissions years 2005, BI also issued Uncut Banknotes Rp 2,000 (special money that was not yet cut off/continued money) as many as 4,700 sheets with their respective continued money kind contained 2 bilyet, 4 bilyet and 50 bilyet. As the collection object, Uncut Banknotes this usual was spent in various countries as the publication of special money. (in March/malangpost)

Wednesday, July 8, 2009

Ya!, Aku Menunggu (PART II)

Pukul 06.30 dan aku bergegas mandi karena tidak sabar menantikan saat-saat yang mungkin paling berharga dihidupku.

"oh nak Hamdani" ucap ibu yang sedang berusaha menyalakan tungku, "oh ya, bapak tidak ada. dia pergi ke salah satu agen trevel untuk mengantar beberapa penumpang ke bandara."

Aku hanya dapat tersenyum dan mengangguk, yah paling tidak bersikap menghormati. Berpikir semalaman menguras tenagaku juga. Dan baiklah mungkin aku harus mandiri dan memang begitu seharusnya, aku disini hanya menumpang.

"kau mau kemana Hamdani" ibu membuatku sedikit terbangun lagi.
"oh, saya ingin mandi, apakah ada orang di kamar mandi sehingga ibu memanggil saya?"
"tunggu biar ibu memasakkan air ini untuk mu"
"oh tidak perlu bu. Lagian kali ini tidak sedingin kemarin kan bu" aku mencoba untuk tidak merepotkan ibu lagi.
"tidak apa, sebaiknya Hamdani duduk dulu disana sampai air ini mendidih" paksa ibu

Tentu aku tidak boleh angkuh wanita itu lebih tua dariku siapapun dan dari mana asalku aku tidak boleh angkuh, sekali lagi aku hanyalah pendatang. Daguku ku topang dengan tangan, kantuk mulai menggerogotiku dan ini membuat aku sedikit menggerutu kepada air yang sama sekali belum mendidih itu. Andai ada dispenser disini.

"ibu biasa melakukan ini" tanyaku untuk menghilangkan rasa kantukku
"ya, selalu....untuk Darmiwan"
"untuk Darmiwan" dahiku mengkerut dan kerutan itu terlihat jelas.

Aku bingung dan sedikit merasa aneh. Bukankah Darmiwan sedang merantau, lalu untuk Darmiwan siapa ibu memasak air. Entahlah nama Darmiwan bukan anak ibu dan bapak saja yang memiliki seperti Hamdani namaku yang sedikit pasaran di lingkungan pekerjaanku sebagai seorang karyawan Bank Swasta.

"Lalu sekarang Darmiwan dimana" mulutku mulai tidak bisa ku kendalikan akibat otakku yang bertanya-tanya.
"ada...dia ada..." ibu menjawab dengan sedikit ketus.
"oh...." aku menutup pembicaraan ini dengan tanpa banyak tanya.

Aku mencoba berjalan kedepan rumah mencari udara yang mungkin bisa membawa segala pertanyaan yang membuatku bingung menjauh. Kini aku terbuai dengan belaian-belaian angin pagi. Mereka memanjakanku dengan oksigen yang dapat kuhirup sebanyak-banyaknya. Namun tak lama berselang suara seorang wanita terdengar dan itu mengusik para angin. Aku pergi ke sumber suara dan terdapat air yang menguap disana.

"sekarang mandilah...sebelum kamu sakit..." ucap ibu sambil berjalan meninggalkanku.

Ibu terlihat aneh, kemarin beliau begitu bijaksana kurasa tapi sekarang entah aku sendiri tidak mengerti. Beberapa guyuran air hangat membuatku lebih merasa segar, membuatku sedikit melupakan keanehan ibu, dan membuat pikiranku lebih tenang.
***
Aku duduk dipinggir ranjang menarik napas sedikit dan memutuskan untuk beranjak mencari angkot. Aku berani karena aku tidak terlalu buta dengan jalanan kini, kemarin aku sudah melewatinya setidaknya aku berpatokan pada air mancur yang besar itu.

"bu,...saya pamit keluar sebentar ya bu" dan aku sedikit membuka tirai kamar ibu dan bapak.
"sudah makan?"
"oohhh.. tidak usah bu, saya buru-buru..biar saya makan diluar saja"
"jangan...kamu harus makan" ibu beranjak dan meletakkan bingkai foto di atas meja riasnya, dia menarik tanganku ke meja makan "makanlah...nanti kamu sakit...ada tempe goreng sambel...kamu pasti suka...makanlah" kata ibu sambil menyendok nasi ke atas piring.
"terima kasih, bu" aku menjawab tanpa penolakan
***
Aku mau muntah, apakah ini namanya mabuk darat. Sekarang pukul 09.06 itu berarti aku menghabiskan 68 menit hanya di atas angkot yang berjalan dengan sangat pelan karena menunggu kendaraan didepannya memberikan rongga. Belum lagi gadis kecil berumur sekitar 5 tahun meronta-ronta pada ibunya karena kepanasan. Telingaku hampir tuli dibuat bisingnya klakson kendaraan lain dan permintaan gadis itu.

"ting...tong...ting..tong" ku tekan bel berkali-kali. Aku merasa malu karena pasti membuatnya sangat menunggu lama.
"maaf" satu kata yang terucap dari mulutku ketika kulit putih itu tampak dari balik pintu.
"tidak apa-apa..begini lah Jakarta...kau pasti terkena macet kan"

Dia dari dulu tidak pernah berubah, selalu menjadi wanita yang sabar. Aku hanya bisa menghela napas sekali.

"Lalu kita mau kemana...aku tidak tahu tempat disini" ajakku sekaligus bertanya
"Lebih baik kau masuk dulu, keringkan bajumu dari keringat itu, tidak perlu terburu-buru" dia menarik tanganku untuk memasuki bagian ruang tamunya. "duduklah...aku akan mengambilkan air untukmu..pasti kau haus"

Rumahnya besar tapi aneh, tidak ada satupun foto terpajang di dinding rumahnya, tidak ada satupun koleksi berbahan kristal yang ku tahu adalah kesukaannya di lemari pajangannya, dan di meja yang sekarang berada tepat di depanku tidak ada vas bunga.

"minumlah....kau masih suka jus jeruk bukan" jarinya yang lentik menyodorkan segelas air berwarna ke hadapanku.
"kau masih ingat?..." tanyaku dengan sedikit tersenyum karena dia masih mengingat kesukaanku. "ini rumah baru mu?" tanyaku
"tidak...aku sudah tinggal disini kurang lebih 1 tahun 5 bulanan lah" jawabnya dengan senyumannya yang khas
"lalu dalam waktu yang cukup lama itu bukankah kau bisa melengkapi koleksimu" ucapku sambil menunjuk lemari pajangannya
"bagaimana kalau kita jalan sekarang aku ada tempat yang menarik" Maya memotong pembicaraan dan berdiri dari tempat duduknya. "ayo... untuk apa hanya melihat begitu saja"
"oh...ayo" jawabku

Kami berjalan keluar rumah bersama, ya sungguh hati saya sangat senang. Saat yang ditunggu akan tiba.
***
Maya berjalan di depan aku mengikutinya dari belakang, di kanan kiriku hanyalah sebuah pepohonan dan ilalang-ilalang. Aku baru tahu kalau di kota Metropolitan ada tempat seperti ini, biasanya yang kulihat di televisi hanya tempat-tempat hiburan atau tempat lain yang tidak berhubungan dengan alam bebas.

"bagaimana bagus bukan" kami berhenti dipuncak bukit.
"bagaimana kau bisa menemukan tempat sebagus ini"
"mungkin insting..." jawabnya singkat dengan sedikit senyuman kebebasan, "suka...."
"oh tentu....kau sering kesini"
"sering?...mungkin bisa dibilang demikian...uhuk..uhuk.."
"kau sakit?" tanyaku kawatir
"aku sakit....hey aku wanita yang kuat...dulu yang paling sering absen masuk sekolah karena sakit itu kan kamu...ha..ha..ha..ha" timpalnya seru
"ah...kenapa kau masih mengingat itu" jawabku sedikit malu sambil menurunkan pantatku menyentuh tanah dibawah dan dia mengikutinya
"aku kangen masa lalu... dan ingin ke sana..."

Kami menghabiskan waktu kami di bawah pohon rindang selama seharian. Aku bahagia saat ini karena bisa bersama gadis yang kutunggu cukup lama. Kami terus berbicara dengan sedikit tawa menghiasi, semua kenangan masa lalu terus ia korek sampai sedalam mungkin. Kadang beberapa ucapannya terasa sedikit aneh, tapi tak mengapa mungkin itu luapan emosinya seperti aku kemarin.

"kau tidak lapar....kita hampir seharian disini" tanyaku sediki kawatir karena dia belum mengeluh masalah makanan
"kau ingin makan?" tanyanya balik..."kau harus menunggu 2 jam lagi sampai pukul 18.00, setelah itu kita akan pindah tempat... kau harus melihat warna awan yang indah ketika matahari turun"
"sunset...??" tanyaku singkat
"sunseet??" jawabnya "bukan...hanya melihat awannya saja..." dia tersenyum

Memang awan sore terkadang begitu indah dan menarik perhatian, dan aku yakin pasti memang menarik karena aku tahu selera wanita yang berada di sampingku ini tidak sembarangan. Aku harus menunggu lagi, menunggu adalah hal yang paling kubenci tapi selalu kulakukan, namun untuk sekarang aku tidak mengeluh karena aku mengunggu bersama wanita paling cantik di hatiku setelah ibuku yang sudah dipanggil lebih awal.
***
"benarkan indah awannya tadi" bibirnya yang merah bergerak lembut. "mas es kelapa 2 ya..seperti biasa" dia memesan untukku juga.
"apakah ini yang sering kau lakukan?, setelah dari bukit kau pergi kesini"
"biasanya pinggir jalan lebih nikmat dari restoran berbintang, iyakan?...dulu kau juga berkata seperti itu" dia tidak menjawab pertanyaan ku tapi balik bertanya"nasi goreng disini enak loh...masih menjadi makanan favoritmu kan?"...."mas nasi gorengnya 2 juga ya" teriaknya.
"sepertinya tidak ada yang kau lupakan dari masa lalu" tanyaku, tapi dia hanya tersenyum sambil menunggu pesanannya datang.

Ku antar dia pulang walau aku sendiri tidak membawa kendaraan. Kami naik angkot dan membuat momen hari ini sempurna karena kami dibuat selalu berdampingan dari awal sampai tiba di depan rumahnya.

"kau kenapa?...kenapa mukamu menjadi tegang" tanyaku kahwatir "apa kau lupa mengunci pintu, tapi sepertinya tidak ada apa-apa dirumahmu"
dia tetap menunjukkan muka tegang dan tidak menjawab "kamu mau kutemani masuk ke rumah...setidaknya untuk memastikan kau baik-baik saja"
"sudah pergilah...!!!, pergi sekarang juga!!!!" dia menjawab dengan nada yang tegas menurutku.
"kenapa?..." tanyaku heran
"kenapa kau harus banyak bertanya sih..!!!...pulang lah kerumah pak satrio-mu itu!!...cepat!!.." jawabnya ketus "cukup untuk hari ini, jangan kau kembali untuk saat ini, aku mohon..." pintanya
"baik....baiklah...aku pulang...sampai jumpa besok...dah" ku akui ucapanku sedikit terbata-bata.

Aku meninggalkannya sendirian di depan pagar rumahnya, namun aku tidak langsung pulang. Aku menunggu dari sebrang jalan dan mengamati rumahnya untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Terlihat pundakya sempat menaik dari belakang dan bisa dikatakan dia menghela napas untuk langkah pertamanya. Ku tatap langkah kakinya sampai berada di depan garasi mobilnya dan dia kembali berhenti. Sekarang aku tersadar kalau jumlah mobilnya kini bertambah 1, aku semakin curiga apa yang terjadi sebenarnya. Kakinya melangkah lagi menuju depan pintu, dan secara otomatis tangannya bergerak memutar gagang pintu, dia masuk dan aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Suasana hening kakiku melangkah maju 3 kali tapi ter henti aku teringat permintaannya untuk jangan datang. Aku menarik kakiku kebelakang dan lenyap di kegelapan malam di depan rumahnya.


*bersambung

belum baca PART I silahkan klik sini

Monday, July 6, 2009

Ya! Aku Menunggu

"Selamat Siang bapak.. kita sudah sampai tujuan bapak"...
"mmh...ooh maaf saya sedang melamun tadi"
"Tidak apa bapak, terima kasih telah menggunakan pelayanan kami dan kami harap bapak puas akan pelayanan kami"
***
Aku bahkan tidak menyadari kalau pesawat ini telah sampai di landasan sejak tadi. Ku akui memang sejak awal aku hanya duduk melamun dan bersandar di samping kaca hanya untuk memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Ku harap aku dapat mengatakannya dengan lantang saat aku sampai ke rumahnya atau tidak minimal bertemu dia sajalah. Berjalan di antara orang asing membuatku semakin gugup, harus ku akui ini pertama kalinya pemuda asli Kalimantan sepertiku menginjakkan kaki di Kota Metropolitan seperti ini. Kekaguman yang ku rasa akan kebersihan lorong dan Kaca di samping kanan kiri ku tetap tidak menghapus rasa gugup ku untuk bertemu dia. Dan ku harap alamat yang kudapat dari komentarnya untuk sahabatnya di dinding Facebook sahabatnya itu tidak membawa aku dalam ketersesatan.


"Hei!!"
"uupss, maaf nona saya tidak sengaja"

Sial alamat yang kupegang ini membuat mataku tidak bisa memandang ke arah lain selain ke secarik kertas yang ku genggam erat. Ternyata langkah kaki ku telah sampai di jalan luar Bandara.
***
"Bisa saya bantu Pak"
"oh ya.. boleh... bisakah bapak mengantarkan saya ke salah satu penginapan disini"
"Tentu, silahkan...ooh biar saya saja yang mengangkat koper bapak... waduh cukup berat juga ya"

Mata saya tidak lepas dari usaha pria separuh baya itu untuk memasukkan koper saya ke dalam bagasi mobilnya. Saya merasa nyaman saat memasuki mobil kijangnya dan saya harap kenyamanan ini tidak akan cepat menghilang. Perbincangan kecil mulai terjadi, mulai dari pertanyaan tentang asal usul saya, umur saya, dan segala hal yang belum termasuk dalam hal-hal pribadi.

"Kalau bisa yang murah saja ya, Pak"
"oohh.. bisa, kebetulan saya mengetahui penginapan yang murah. Kurang lebih 60 km lagi."

Kegugupan kembali memasuki pikiran saya dan saya harap 60 km ini akan segera tertempuh hanya 1 menit saja, tapi itu adalah suatu hal yang mustahil.

"Selamat Datang di Penginapan Sriwedari.."
"Bisakah saya menginap di sini untuk beberapa malam"
"Maaf Bapak saat ini kamar sedang penuh mungkin bapak bisa datang beberapa hari yang akan datang"

Jawaban yang tidak saya harapkan keluar dari mulut wanita secantik recepcionist itu. Huh!.. aku sudah merasa lelah. Dan lagi-lagi pria separuh baya membuka percakapan, tentu maksudnya baik. Tapi mungkin aku harus mempertimbangkannya dulu, bagaimanapun juga dia adalah orang asing bagiku.

"Bagaimana?"
"mmmhh..."
"Tidak apa, walau rumah saya tidak sebesar rumah-rumah di Pondok Indah tapi layak ditempati untuk beberapa hari kok, sampeyan bisa tinggal di rumah saya kalo sampeyan mau"

Karena hari yang sudah mulai menggelap maka kuputuskan untuk menerima ajakannya menginap di rumahnya untuk beberapa hari, minimal 3 hari sampai aku mendapatkan penginapan. Walau sebaik apapun orang itu tentu aku merasa tidak enak karena dia bukan siapa-siapa ku.
***
Rumahnya memang tidak semenarik rumah para pejabat, namun terkesan mewah ketika aku merasakan sambutan sang ibu rumah yang selalu menebarkan senyum, dan memang harus di akui senyum akan terasa mahal ketika hidupmu dikelilingi kesibukan yang membuat jenuh. Beberapa piring dan gelas serta 4 buah tahu dan nasi secukupnya tersusun rapi di atas meja.

"Ayo makan dulu"
"Tidak terima kasih saya masih kenyang untuk sekarang"
"Itu untuk sekarang, namun untuk nanti apakah masih sekenyang sekarang. Ayo tidak apa-apa. Maaf ibu tidak bisa memasak makanan yang lebih enak dari ini"
"akh tidak masalah bagi saya, kesederhanaan kadang lebih enak dari kemewahan" (saya berkata untuk menghilangkan rasa minder sang ibu saat tangan saya ikut tertarik menuju ke meja makan)

Malam yang sederhana di tutup dengan lantunan lagu jawa klasik yang mungkin adalah kesukaan kedua pasangan yang ditinggal merantau anaknya ini. Walau mataku terpejam tapi kegugupanku untuk hari yang belum bisa ku pastikan tidak dapat ikut terpejam, otak ku terus berputar-putar menjelajahi ketidak pastian, apakah akan begini, akan begitu, atau tidak sama sekali. Entah aku sendiri tidak mengetahui kapan otakku berhenti memikirkan ketidak-pastian itu, tapi tiba-tiba saja ada suara orang tua yang memanggilku dan sedikit menggoyang-goyangkan tubuhku.
***
"Tidur nyenyak semalam"
"Bapak, cukup nyenyak tapi sedikit terganggu dengan beberapa bintang malam"
"ha..ha..ha..ha... maklum rumah kecil jadi begitu lah keadaannya, tidak ada masalah dengan kasur kapuk ini"
"Tidak, sama sekali tidak, saya merasa nyaman, bahkan saya sempat berpikir sepertinya ini lebih baik daripada punya penginapan kemarin"
"ha...ha...ha...sampeyan bisa saja...kasur ini belum pernah diganti, paling di jemur saja biar tidak bau apek, dari Darmiwan kecil sampai besar dia menghabiskan waktu tidurnya disini"
"oh.. ini kamar anak bapak.. saya bisa pastikan anak bapak pasti teliti.. terlihat dari pernak-pernik yang tersusun rapi"
"Ya, Darmiwan tidak mau jika perabotannya kami usik, dia cukup mandiri...oh ya sampeyan tidak mau mandi, ibu baru saja merebuskan air, cuaca cukup dingin tidak seperti biasanya dan alangkah segarnya jika sampeyan mandi dengan air yang hangat"
"oohh terimah kasih pak...."

Saya merasa tidak jauh dari keluarga saya saat ini, kehangatan mereka mengalahkan hangatnya air rebusan ibu. Belum lagi ibu selalu manarikku untuk menghampiri meja makan, mereka tidak terusik dengan kedatangan ku, mereka tidak memperlakukan ku sebagai orang asing.

"Bagaimana?,, hari ini mau kemana?"
"Lebih baik bicara sehabis makan Pak.. biar Hamdani makan dulu..nanti keselek"

Ibu begitu bijaksana, bahkan aku merasakan aura ibu kandung saat beliau menyebutkan namaku. Matahari sepertinya tidak bersahabat seperti kemarin, hari ini begitu terik.
***
Awal perjalanan kami tentunya ke pusat tempat bapak menyewa mobil Kijang ini, dia harus menyetor pemasukan selama seminggu. Aku hanya duduk didalam mobil sementara bapak masuk untuk menyetor uang memang hanya 15 menit tapi sudah bertahun-tahun aku rasakan, bagaimana tidak sepertinya alamat yang kupegang ini memanggilku untuk bergegas. Kurasa wajar saja aku seperti ini karena mungkin ini bisa menjadi hari penentuan ku, apakah penantianku menbuahkan hasil.

"Pak kita mencari penginapannya nanti saja ya Pak, kita langsung saja ke sini" aku menyodorkan alamat yang membuat tanganku berkeringat itu
"Lah sampeyan ngapain cari penginapan, sduah tinggal aja di rumah bapak"
"aduh Pak saya tidak enak"
"gak apa..wes kita ke tempat itu tu yang ada di alamat situ.."

Ya...kuharap bapak bisa menginjak gas lebih dalam agar perjalanan lebih singkat. Aku tak mau hari ini sia-sia padahal kami masih mempunyai 7 jam sebelum jam 8 malam nanti. Aku sama sekali buta dengan jalanan kota yang besar ini. Entah sekarang ada dimana yang jelas saya melihat air mancur yang cukup besar di tengah jalan. Mobil Kijang yang saya tumpangi stop di depan sebuah rumah. Kupandang nomor rumahnya dengan jelas, dan mataku berpindah memandang ke kertas yang sudah mulai melembab karena terus digenggam dengan telapak tangan yang basah.

"2B...."
"iya ini 2B..."

Lalu apa yang harus ku lakukan, tetap duduk di jok dengan segala kegugupanku atau pergi kembali ke rumah Pak Satrio. Tidak aku terlihat bodoh saat ini, kaki ku seakan-akan terpaku di dalam mobil, aku pusing, pikiranku menerawang kemana-mana, aku berharap terlalu banyak, aku bingung, aku seperti anak kecil yang menunggu ayahnya pulang dari kerja di atas ayunan, bergoyang-goyang tanpa kepastian, seperti perahu kecil yang tidak memiliki kekuatan untuk menahan ombak.

"hei..."
"ah..iya Pak ..kenapa"
"apa yang sampeyan pikirkan, daritadi bapak panggil-panggil kok tidak menyahut"
"anu.................."

Rupanya bapak dari tadi memanggilku sementara otakku tidak merespon suara apapun. Aku hanya sedikit gugup, dan mungkin akan tidak gugup jika aku membuka pintu mobil.

"Pak saya coba ke sana sebentar ya...."
***
Kakiku melangkah di atas ubin-ubin merah didepan rumahnya dan akhirnya terhenti di depan kayu bergagang. Kuraba sebentar untuk menguatkan diri, kumudian kucoba mengerahkan seluruh indera penglihatanku untuk mencari sesuatu yang bisa ku tekan agar penghuni rumah menyadari keberadaanku disini.

"Ting...tong....ting...tong...ting...tong" sesekali ku mengetuk "tok...tok...tok"
"Siapa?....tunggu sebentar ya..."

Kudengar suara Merdu itu masih seperti dulu halus, dan berirama yang menunjukkan dia bukan wanita sembarangan. Gagang pintu kurasa sedikit berputar. Jantungku sepertinya semakin tidak bersahabat, kecepatannya bertambah dan hampir membuatku mati.

"Ya....."

Rambutnya yang terurai panjang dan terkibas angin membuat kulit putihnya semakin sempurna. Bibirnya yang semerah darah menarik perhatianku lebih. Kuperhatikan tubuhnya yang sintal dari atas kebawah membuat hati ku semakin kacau, kulitnya begitu putih seputih salju. Ya tidak ada yang berubah dari dirinya tahi lalat di lehernya masih seperti dulu hitam dan tidak merusak kecantikannya.

"helllooo.....apa yang kau lihat?"

Sial mungkin dia pikir aku berengsek, maniak, lelaki bejat...sial kenapa aku harus terlihat bodoh saat ini.

"kenapa kau melamun...kita lama tidak jumpa...hei"

Dia memukul pundakku kecil dan hal itu membangunkanku dari alam hayal yang membuatku terlihat bodoh.

"hai.... apa kabar?"
"kau aneh...."
"tidak..."
"kenapa tidak... kau aneh, kenapa kau gugup?"
"aku gugup... tidak mungkin itu perasaan mu"
"aku tahu siapa kau, aku melihat keringat di dahi mu dan dari dulu jika kau keringatan kau selalu gugup...."
"oh ya..."
"itu siapa?"

Dia menunjuk bapak yang kutinggalkan di dalam mobil. Aku malu, aku terlihat bodoh dengan kata-kata yang kuucapkan tadi.

"itu Pak Satrio... aku tinggal di rumahnya saat ini"
"oh ya... kapan kau datang...ayo masuk"
"oh... tidak...mh..maksudku bukan saat ini... kasihan bapak menunggu... setidaknya aku tahu rumahmu...bagaimana besok...kita jalan..."
"panggil saja Pak...Pak...."
"Satrio"
"ya maksud ku itu Pak Satrio...dia boleh masuk...karena kau mempunyai banyak PR...untuk menceritakan aku tentang banyak hal...."
"sepertinya tidak bisa...kasihan bapak sudah tua.... lagian ibu menunggu dirumah..."
"begitu...."
"ya....lalu?"
"lalu?..kenapa kau bertanya padaku?"
"maksudku.. bagaimana tawaranku tadi...besok"
"sebenarnya kau kenapa... kenapa kau icara seperti orang aneh...tidak biasanya...oke tawaranmu aku terima karena begitu banyak pertanyaan ku yang harus kau jawab"
"baiklah aku pulang dulu...."
"hati-hati ya....aku tunggu besok"

Awal yang tidak begitu mengesankan kurasa, semua karena kebodohanku. Kenapa aku harus keringatan, dan harus berbicara seperti orang yang baru belajar bicara. Aku naik ke mobil dan berharap sampai ke rumah untuk mandi dan tidur agar besok aku bisa memperbaiki kebodohanku. Aku senang walau terlihat bodoh tapi aku bisa melihat dia dan dia menerima ajakanku untuk pergi besok.


*bersambung*

Tuesday, April 21, 2009

Saatnya saya Bergerak

Bukanlah suatu alasan untuk semua orang kalau tidak bisa bergerak hanya karena kekurangan fasilitas. Walau memang fasilitas elektronik ataupun transportasi merupakan faktor penting dalam setiap pergerakan manusia tapi kalau dipikirkan secara mendalam tidak memiliki segala fasilitas pun kita dapat bergerak untuk melakukan sesuatu. Seperti semut mereka dapat mengangkat barang yang lebih besar dari tubuh mereka yang jika kita pikirkan itu adalah hal yang mustahil bagi seekor semut. Berbeda dengan seekor gajah, bertubuh besar namun membawa barang kecil. Hal ini menandakan tidak semua fasilitas yang kita miliki dapat membuat pekerjaan kita menjadi besar. Hal kecil yang kita milikilah yang mampu membuat sebuah pergerakan akan menjadi bermanfaat, hal kecil lah yang membuat sesuatu menjadi lebih terlihat, dan hal kecil lah yang membuat perencanaan menjadi sempurna. Banggalah pada apa yang kita punya walau itu sekecil debu di jalan raya, karena hal kecil akan menjadi besar jika diiringi hal kecil lain yang kita miliki seperti debu yang menumpuk di atas bingkai foto.

Manfaatkan segala apa yang kita punya, jangan jadi parasit, menempel pada seseorang yang memiliki hal besar yang tidak akan kita miliki. Sekecil apapun apa yang kita miliki akan sangat berarti jika didedikasikan untuk sekitar kita. Berbeda dengan hal-hal besar yang sulit di bagikan karena keegoisan pemiliknya. Karena "ukurannya" yang besar beberapa orang akan sulit untuk berbagi, berbeda dengan hal yang "berukuran" kecil yang biasanya tidak perlu dipikirkan untuk dibagikan.
Memberi lebih mulia dari pada menerima, semua orang pasti tahu akan hal itu. Tapi mengapa banyak orang yang sulit berbagi. Hal itu karena setiap orang menginginkan hal yang besar terjadi dalam hidupnya, namun sesuatu tidak akan terjadi karena tidak ada perkembangan dalam dirinya. Berbeda dengan orang yang ingin berbagi sesuatu terjadi dan ada pembentukan disana, walau tak nampak seperti udara di sekitar kita tapi itu lebih berarti dari pada pasir di padang gurun yang berlimpah namun tidak berguna sama sekali, tandus, gersang, dan tidak ada kelembapan.
Memang sulit rasanya untuk memilih hal yang besar atau yang kecil, namun jika kita membandingkan hasil yang didapat kita akan dan harus memilih hal kecil mulai sekarang. Fasilitas bukan lah yang terpenting namun dedikasilah yang diharapkan. Dedikasi pada Yang Kuasa, pada keluarga, pada kekasih, pada sahabat, pada teman, pada pendidik, pada sesama, dan pada lingkungan. Saatnya bergerak tanpa meronta-ronta terhadap fasilitas, saatnya bergerak dengan hanya hal kecil ditangan, saatnya bergerak dengan harapan, saatnya bergerak dengan mimpi sesama, saatnya bergerak membawa perubahan. Dan akhirnya kita akan duduk diam dengan kepuasan dan hasil jerih payah kita selama bergerak hanya dengan hal kecil, kita akan terdiam karena melihat hal kecil kita telah berubah menjadi hal yang besar, serta kita akan bahagia selamanya karena dedikasi kita dihargai dengan harga yang hanya diberi Yang Kuasa bukan manusia.
Saya akan bergerak dengan kemampuan saya untuk membantu teman-teman saya menggerakkan BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman. Dengan Hal kecil kita bisa teman-teman.

Friday, March 13, 2009

AppLe Tree

We must alive likes a bar of tree that created to serve. serve every human without hope to served. What ever we think if we only expect tree produces a sweet fruit, oxygen that scattered so much, and water that overflow. But without we realize many people only just want to make a martyr of that trees likes to clean every leaf that scale off even and that make many people hate tree existences in some where. Mortallyer again when does human with pleasure the heart to fell the tree that serve human every moment just for a much money.
Why does human not alive to can serve but always hope to served. Isn't it true that human is created to mutual serve one with another. Because human always experience dependence. But in reality stills many ego and that force that human personally to is one who important so that he is served by another person. Unconsciously actually that wanted human be one who good, that way everything him do will be good thing also will not like one who will want important most of they will do everything that harm vinicity to get everything that will make them will be important person. Here's moment it we are to change and try mutual serve like loyal apple tree gives red apple sweet, watch over soil, keep water, and give oxygen every day. Don't ever tired to struggle to be good person that want to serve.
More Important Is Good Person Than Better Be Important Person.

Saturday, February 21, 2009

4 LiLin dan Makna Kehidupan

Ada 4 lilin yang menyala,

Sedikit demi sedikit habis meleleh.
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah
percakapan mereka

Yang pertama berkata: “Aku adalah keindahan.” “Namun
manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku
mematikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Yang kedua berkata: “Aku adalah Kasih Sayang.” “Sayang aku
tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku,
untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara:”Aku adalah
Cinta” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.”
“Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku
berguna.”
“Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang
mencintainya, membenci keluarganya. “
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin
ketiga.

Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan
melihat ketiga Lilin telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh
apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku
takut akan kegelapan!”

Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
Jangan takut,
Janganlah menangis,
selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat
selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:

Akulah "HARAPAN"
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin
Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin
lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah "HARAPAN".
yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita
semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak
tersebut, yang dalam situasi apapun mampu
menghidupkan kembali Keindahan, Kasih Sayang
dan Cinta dengan "HARAPAN"-Nya…

Saturday, February 14, 2009

Here I Am

keep quiet at festivity
hush at confusion
i am brittle, brittle in emptiness
refract dumb i am sit
wait for crowded incoming
return my heart
so that i shine to break ocean
and back hold my day

Tuesday, February 3, 2009

LIFE not TRUTH

Dentang jam terbang terbawa angin
Senyap merayap di setiap sudut kehidupan
Bulir-bulir air mata akan tertuai
Senyum itu kini telah memudar
Tawa Lenyap tertelan bersama Liur usang
Canda mengambang dalam kepunahan
dan Marah siap menerima kerapuhan
Semua terganti dengan Tangis sengsara
Tangis akibat kemunafikan
Kemunafikan yang membelah hati nurani
Tangis akibat kenaifan
Kenaifan yang menduakan perasaan
Tangis akibat kemurtadan
murtad kehidupan
Kehidupan yang diharapkan abadi kini menghilang
Mati terkubur bersama api
Api yang mengganas memakan setiap nyawa
membawa penderitaan yang tak diharapkan untuk kekal

Thursday, January 29, 2009

Vote For Komodo National Park, Indonesia

Kembali waktunya telah tiba untuk memberikan suara dalam pemilihan keajaiban dunia bukan buatan manusia dalam New7Wonders. Dan kali ini yang harus kita vote hanyalah Pulau komodo sebagai satu-satunya nominasi asal Indonesia setelah dua nominasi lainnya harus terhapus dari jajaran nominasi yaitu Danau Toba dan Gunung Krakatau. Komodo National Park berada di Group E (forest, national park, nature reserves) dan kita dapat berbangga diri karena Komodo National Park ini berada di posisi kesebelas pada Group dengan nominator terbanyak setelah Group F yang berisi dengan semua keindahan alam yang berhubungan dengan air. Sebelum kita memberikan suara alangkah baiknya kita untuk mengerti dan mengetahui sejarah Pulau Komodo ini.

SEJARAH PULAU KOMODO

Sejak dulu di Pulau Komodo, jajaran Kepulauan Flores, Indonesia, telah muncul kisah tentang naga raksasa. Banyak pelaut yang berkisah bahwa naga ini lebih mirip monster yang menakutkan.Ekornya yang besar bisa merubuhkan seekor kerbau hanya dengan satu kibasan. Rahangnya besar dan kuat, hingga mampu menelan seekor babi hutan dalam satu gerakan. Dan dari mulutnya senantiasa menyemburkan api.Kisah ini beredar luas dan sempat menarik perhatian banyak orang. Namun tak pernah ada yang berani mendekati pulau tersebut untuk membuktikannya. Sampai akhirnya pada 1910-an awal, muncul laporan dari gugus satuan tempur armada kapal Belanda yang bermarkas di Flores tentang makhluk misterius yang diduga “naga” mendiami sebuah pulau kecil di wilayah Kepulauan Sunda Lesser (sekarang jajaran Kepulauan Flores, Nusa Tenggara).Para pelaut militer Belanda tersebut memberi laporan bahwa makhluk tersebut kemungkinan berukuran sampai tujuh meter panjangnya, dengan tubuh raksasa dan mulut yang senantiasa menyemburkan api. Letnan Steyn van Hensbroek, seorang pejabat Administrasi Kolonial Belanda di kawasan Flores mendengar laporan ini dan kisah-kisah yang melingkupi Pulau Komodo. Ia pun merencanakan perjalanan ke Pulau Komodo.Setelah mempersenjatai diri dan membawa satu regu tentara terlatih, ia mendarat di pulau tersebut. Setelah beberapa hari di pulau itu, Hensbroek berhasil membunuh satu spesies aneh itu.Ia membawanya ke markas dan dilakukan pengukuran panjang hasil buruannya itu dengan panjang kira-kira 2,1 meter. Bentuknya sangat mirip kadal. Satwa itu kemudian dipotret (didokumentasikan) oleh Peter A Ouwens, Direktur Zoological Museum and Botanical Gardens Bogor, Jawa. Inilah dokumentasi pertama tentang komodo.Ouwens tertarik dengan temuan satwa aneh tersebut. Ia kemudian merekrut seorang pemburu lihai untuk menangkap spesimen untuknya. Sang pemburu berhasil membunuh dua ekor komodo yang berukuran 3,1 meter dan 3,35 meter, plus menangkap dua anakan, masing-masing berukuran di bawah satu meter.Berdasarkan tangkapan sang pemburu ini, Ouwens melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa komodo bukanlah naga penyembur api, melainkan termasuk jenis kadal monitor (monitor lizard) di kelas reptilia.Hasil penelitiannya ini kemudian dipublikasikan pada koran terbitan tahun 1912. Dalam pemberitaan itu, Ouwens memberi saran nama pada kadal raksasa itu Varanus komodoensis sebagai pengganti julukan Komodo Dragon (Naga Komodo).Sadar arti penting komodo sebagai satwa langka, Pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan proteksi terhadap komodo dan Pulau Komodo pada 1915. Jadilah kawasan itu sebagai wilayah konservasi komodo.Temuan komodo sebagai legenda naga yang hidup, memancing rasa ingin tahu dunia internasional. Beberapa ekspedisi ilmiah dari berbagai negara secara bergilir melakukan penelitian di Pulau Komodo.
  • Hewan Prasejarah yang Bertahan
Usai Perang Dunia I, sebuah ekspedisi ilmiah dirancang untuk melakukan penelitian komodo. Pada 1926, ekspedisi yang dipimpin W Douglas Burden dari American Museum of Natural History dengan perangkat penelitian termodern, melakukan penelitian selama berbulan-bulan.Ekspedisi yang melibatkan puluhan orang itu menangkap 27 ekor komodo. Mereka melakukan bedah anatomi dan identifikasi spesies. Dari sinilah laporan ilmiah pertama yang lengkap tentang komodo dibuat.
Dideskripsikan bahwa komodo memiliki kepala yang besar dan kuat, memiliki sepasang mata yang bersinar, kulitnya keras, tebal dan liat. Memiliki kelambir kulit berkerut di bawah lehernya.Bentuknya mirip dengan biawak, dengan empat kaki yang gemuk besar dan ekor yang juga gemuk besar panjang. Memiliki 26 gigi yang tajam, masing-masing berukuran 4 cm, memiliki lidah bercabang yang berwarna merah cerah. Jika dilihat dari kejauhan, lidah yang dijulurkan akan mirip api, karena komodo sering menjulurkan lidahnya seperti ular.Komodo juga pemburu handal. Ia mengandalkan gigitan dan racun bakteri pada ludahnya untuk melumpuhkan mangsa. Ia akan mengikuti mangsanya yang sudah terluka selama berhari-hari, sampai akhirnya mati, barulah ia menyantapnya. Sebagai karnivora dan scavenger (pemakan bangkai), komodo memang hanya ditemui di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Gili Motang, Owadi dan Samiin. Komodo juga diketahui sebagai hewan yang jago berenang. Dengan cara itulah ia melakukan penjelajahan di pulau-pulau sekitar Flores.
  • Misteri Pulau Komodo
Sementara itu pada pertengahan abad 20, di Australia ditemukan fosil makhluk purba yang setelah diteliti sangat mirip dengan komodo. Berdasarkan uji karbon, fosil itu diyakini berasal dari masa 60-30 juta tahun lalu. Ini berarti komodo pernah menghuni daratan Australia di masa prasejarah.Namun peneliti masih dibingungkan dengan hubungan Pulau Komodo dengan fosil komodo dari Australia. Walau sejarah geologi bumi menunjukkan bahwa dulunya Australia dan beberapa kepulauan Indonesia adalah satu lempeng, namun Pulau Komodo diperkirakan terbentuk sekitar 1 juta tahun silam.Sementara berdasarkan penelitian, komodo prasejarah sudah punah setidaknya 30 juta tahun lalu, sebelum Pulau Komodo terbentuk. Lantas mengapa komodo hanya bisa ditemukan di Pulau Komodo dan sekitarnya? Sejak kapan komodo menghuni Pulau Komodo? Sementara tidak pernah ditemukan jejak belulang komodo di tempat lain (kecuali Australia). Ini adalah satu misteri yang menuntut penelitian lebih lanjut.
  • Penghuni Pulau Komodo
Komodo dengan nama latin Varanus komodoensis adalah hewan asli Kepulauan Flores, Nusa Tenggara. Pulau yang paling banyak ditempati komodo ini diberi nama sesuai dengan nama hewan ini saat ditemukan pada 1910, yakni Pulau Komodo (Komodo Island).
Kadal-kadal raksasa ini termasuk hewan yang nyaris punah dengan jumlah populasi di alam liar kurang dari 4.000 ekor. Untuk melindungi komodo, pada 1980 disepakati untuk membentuk kawasan konservasi dalam bentuk Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Sebaran dan populasi komodo dalam tiga dasawarsa terakhir ini semakin menurun dan keberadaannya semakin terancam, terutama akibat kegiatan perburuan rusa, sebagai mangsa utamanya. Bahkan populasi di Pulau Padar diketahui telah hilang sejak akhir 1990-an, padahal pada awal tahun 1980-an, komodo masih dapat dijumpai di sana. Perhatian dan upaya konservasi spesies ini perlu diberikan secara khusus, karena populasi komodo diambang kepunahan.
Bagi sebagian penduduk di Pulau Komodo, hewan ini dianggap lebih berbahaya terhadap manusia daripada buaya, karena kandungan bakteri pada air liurnya yang dapat menyebabkan infeksi berat.
Biasanya, musim kawin komodo terjadi antara Juni-Juli. Pada Agustus, komodo betina akan menggali sarang berupa gundukan bekas sarang burung Gosong (Megapodius reindwardt) di bukit dan sarang lubang di tanah, untuk menyimpan telurnya yang dapat mencapai 38 butir. Telur komodo biasanya dijaga oleh induknya, namun anak yang baru lahir pada bulan Februari atau Maret tidak dijaga, malah sering dimakan.
Komodo membutuhkan lima tahun untuk tumbuh sampai ukuran dua meter dan dapat terus hidup sampai 30 tahun. Memasuki 4-5 tahun adalah masa awal kematangan komodo secara seksual.
Setelah mengetahui Sejarah singkat Pulau Komodo sekarang waktunya kita untuk mengetahui Lokasi Tempat para naga Legenda tersebut berada .


  • Letak Taman Nasional Komodo
Taman Nasional Komodo terdiri dari tiga buah pulau besar yaitu pulau Komodo, pulau Rinca dan pulau Padar serta 26 buah pulau besar/kecil lainnya. Sebanyak 11 buah gunung/bukit yang ada di Taman Nasional Komodo dengan puncak tertinggi yaitu Gunung Satalibo (± 735 meter dpl).
Keadaan alam yang kering dan gersang menjadikan suatu keunikan tersendiri. Adanya padang savana yang luas, sumber air yang terbatas dan suhu yang cukup panas; ternyata merupakan habitat yang disenangi oleh sejenis binatang purba Komodo (Varanus komodoensis).
Sebagian besar taman nasional ini merupakan savana dengan pohon lontar (Borassus flabellifer) yang paling dominan dan khas. Beberapa tumbuhan yang ada di Taman Nasional Komodo antara lain rotan (Calamus sp.), bambu (Bambusa sp.), asam (Tamarindus indica), kepuh (Sterculia foetida), bidara (Ziziphus jujuba), dan bakau (Rhizophora sp.)


Selain satwa khas Komodo, terdapat rusa (Cervus timorensis floresiensis), babi hutan (Sus scrofa), ajag (Cuon alpinus javanicus), kuda liar (Equus qaballus), kerbau liar (Bubalus bubalis); 2 jenis penyu, 10 jenis lumba-lumba, 6 jenis paus dan duyung yang sering terlihat di perairan laut Taman Nasional Komodo.
Potensi kehidupan laut di taman nasional ini tercatat sebanyak 259 jenis karang dan 1.000 jenis ikan seperti barakuda, marlin, ekor kuning, kakap merah, baronang, dan lain-lain.
Taman Nasional Komodo merupakan asset nasional yang mendapat dukungan bantuan teknis untuk pengelolaannya secara internasional, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia dan Cagar Biosfir oleh UNESCO.
Wisatawan paling banyak mengunjungi Taman Nasional Komodo adalah wisatawan mancanegara, dimana mereka menyebut taman nasional ini dengan julukan “dunia tersendiri”. Sejauh mata memandang terlihat lapangan terbuka dengan beberapa pohon lontar yang tegak menjulang ke langit dilatarbelakangi rangkaian pegunungan, kesan gersang dan tandus pada padang savana tetapi riuh oleh beberapa suara burung dan kuda liar, reptil raksasa. Berenang dan mandi di bawah teriknya matahari dan birunya air laut Flores; merupakan dunia tersendiri dan pengalaman yang tidak terlupakan oleh para wisatawan.
Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:

Loh Liang. Pintu masuk utama untuk kegiatan pengamatan satwa liar pada hutan musim yang dibatasi oleh pantai pasir putih dan wisata budaya.
Pulau Lasa, Pantai Merah, Loh Bo dan Sebita. Menyelam dan snorkeling dengan fasilitas dive shop dan glass bottom boat.
Banu Nggulung. Pengamatan satwa.
Musim kunjungan terbaik: bulan Maret s/d Juni dan Oktober s/d Desember setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi:Denpasar-Mataram-Bima-Sape (perjalanan darat dan fery) selama dua hari. Dari Sape menuju lokasi taman nasional menggunakan fery. Denpasar-Labuan Bajo dengan pesawat seminggu dua kali, dan menggunakan fery atau speedboat dari Labuan Bajo ke lokasi taman nasional.

Mengetahui berbagai info tentang Pulau Komodo ini akan membuat kita semakin yakin untuk memberikan suara kita karena Pulau ini ternyata menyimpan banyak misteri dan membanggakan Indonesia.It's time to Vote Komodo National Park in N7W.


Sebagai tanda telah memberikan suaranya pasang Poster Komodo National Park dengan alamat Linknya di http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees/
KLIK SETIAP GAMBAR AGAR DAPAT INFORMASI LEBIH

Friday, January 23, 2009

My Wings, My Hope

when I Shout, lost My burden
when I choose silent, i get the Calm
when I Run, I feel Free
But...
I Fall down and my body sick
and finally I know
I dont feel Fully freedom
I dont want only have two foots
foot for walk
foot for run
Foot for jump cheerful
Foot to make melody in the earth
But
I want have a wings
two wings that could Appointed me
appointed me until i fly
Fly in the air
As High As Possible in the air
to calm my heart,
peace my soul
I want fly
fly to leave you are
and This earth too
your Stood place
the Space of the contemptible person, dirty human, and Naive people
Let I fly
fly together peaceful
yes peaceful... lasting peaceful

Sunday, January 18, 2009

Mr. OBAMA : "Enormous Challenges Will Not Be Solved Quickly"



WASHINGTON — Buoyed all day by thousands of cheering onlookers, President-elect Barack Obama brought his whistle-stop journey to the nation's capital Saturday to kick off a weekend of festivities before his inauguration as the 44th U.S. president.

The "Obama Express" carrying the 47-year-old former Illinois senator pulled into Union Station at nightfall, ending a day-long 137-mile trip from Philadelphia along the same route that Abraham Lincoln traveled before his own inauguration 147 years ago.

The train, carrying Obama, his wife, Michelle, and their daughters, Malia and Sasha, left Saturday morning from Philadelphia's historic 30th Street Station, and made a stop in Wilmington, Del., to pick up Vice President-elect Joe Biden and his wife, Jill.

It also stopped in Baltimore, where Obama spoke to a crowd that Deputy Fire Chief Raymond O'Brocki estimated at 40,000 people.

Obama, who trumpeted a call for "change" throughout his campaign, called on Americans to have patience and perseverance in the face of economic challenges.

"Let's make sure this election is not the end of what we do to change America, but the beginning," he told a crowd bundled up against the bitter cold.

Many African-Americans among the crowd wept as Obama, who will become the nation's first black president, addressed the audience.

As in Philadelphia, the Democrat referred to the founding fathers who overcame great difficulties in giving birth to a new nation.

"The trials we face are very different now, but severe in their own right," he said, noting the challenge of an economic crisis and two wars. "Only a handful of times in our history has a generation been confronted with challenges so vast. "

"And yet while our problems may be new, what is required to overcome them is not," Obama said. "What is required is the same perseverance and idealism that those first patriots displayed."

He call for a "new declaration of independence, not just in our nation, but in our own lives — from ideology and small thinking, prejudice and bigotry — an appeal not to our easy instincts but to our better angels."

However, the president-elect warned that the enormous challenges will not be solved quickly and that there will be "false starts, and setbacks, frustrations and disappointments. In a journey reminiscent of Abraham Lincoln's train trip along the same route before his inauguration 147 years ago, the train set off from historic 30th Street Station in Philadelphia.

As it slowed in Claymont, Del., crowds bundled up against the bitter cold, cheered as Obama — smiling broadly — waved from an open-air, back platform decorated in red, white and blue bunting.

Likewise, crowds jammed into the small station in Edgewood, Md., shouted "yes, we can" as train moved slowly past, with Obama and Biden waving from the last car.

Obama's stop in Baltimore was the longest of the daylong trip.

The president-elect and his family rode in style aboard a chartered 1930 Pullman train decked out with brass lamps, a bedroom and dining room. The plush, privately owned car has been used in many presidential campaigns, including by George H.W. Bush in 1992.

On board were special guests, including former Army officer Matt Kuntz of Helena, Mont., who began promoting better mental health services and screening for soldiers returning from Iraq after his stepbrother committed suicide; Case Western Reserve University history professor Lisa Hazirjian, who worked for the campaign recruiting gay and lesbian volunteers in Ohio and Pennsylvania; and Lilly Ledbetter of Jacksonville, Ala., who sued Goodyear Tire & Rubber Co., for sex discrimination.

While the train replicated part of Lincoln's pre-White House railroad journey to Washington from Illinois in 1861, and security was high, the Obama trip was absent the emotions that raged in the country in the lead up to the Civil War.

The fears of a possible assassination plot against the incoming 14th president were so high that Lincoln eventually agreed to change his plans and travel the last leg through Baltimore incognito and on a different train to the capital. The only major problems thus far for the Obama inaugural events is a forecast of freezing temperatures for Tuesday's ceremony and the expected crush of visitors to the nation's capital.

Somewhere between 1 million and 2 million people are expected to make their way to Washington for the swearing-in ceremony and inaugural parade. Some 240,000 tickets have been issued for the festivities at the Capitol, with 28,000 seats.

On Sunday, Obama will attend a star-studded concert at the Lincoln Memorial, and on Tuesday, he will be sworn into office with his hand on Lincoln's Bible.

In his weekly Saturday radio and Internet address, Obama said his inauguration Tuesday is a rite of passage that the country marks every four years as a testament to its democratic ideals. He cautioned that its tradition should not be taken for granted.

"We must remember that our nation was founded at a time of kings and queens, and even today billions of people around the world cannot imagine their leaders giving up power without strife or bloodshed," Obama said.

He noted that peaceful transfers between U.S. presidents have come regardless of circumstance.

"Inaugurations have taken place during times of war and peace, in depression and prosperity," Obama said. "Our democracy has undergone many changes, and our people have taken many steps in pursuit of a more perfect union. What has always endured is this peaceful and orderly transition of power. While the inauguration ceremonies are taking center stage, the Obama team is also moving along on the governing track. On Friday, the Senate agreed to give him access to the second half of last fall's $700 billion financial industry bailout and House Democrats unveiled an $825 billion stimulus package.

One of the largest bills ever to make its way through Congress, it calls for federal spending of roughly $550 billion and tax cuts of $275 billion over the next two years to revive the sickly economy. It also focuses heavily on energy, education, health care and jobs-producing highway construction.

Seeking to counter critics' claims of excessive spending and too few tax cuts, Obama cast the package as necessary to create long-lasting, well-paying jobs in industries such as alternative energy, and help hard-hit industrial states such as Ohio now and in the future.

Also Friday, two U.S. officials said Obama was preparing to prohibit the use of waterboarding and harsh interrogation techniques by ordering the CIA to follow military rules for questioning prisoners.

The proposal Obama is considering would require all CIA interrogators to follow conduct outlined in the U.S. Army Field Manual, the officials said. The plans would also have the effect of shutting down secret "black site" prisons around the world, they said.

The new rules would abandon a part of outgoing President George W. Bush's counterterrorism policy that has been condemned internationally.

Thursday, January 15, 2009

I'm BACK

After i chose to rest and that not three months like i said, but i got many matters when i resting yesterday and now i feel better. Because I could learn from all of my experiences. For view weeks when i rest, i got many problems but for me it just a trivial problem. Although it's trivial problem but that can damage and change my life if immediately was not completed and that made me studying again and make me know the meaning of the life. And now i will to make my life better without complaining in each problem of my life. Because I will clearing that and always make smile in my face as for a long time as possible. Because i believe every problem have a solution and we can handleing with smile and fresh mind. And if we trust in God and Obey we can get golden way and can survive in many problem.
But i just wanna say sorry because now i cant make some post.